2026-08-11
HaiPress

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
BEBERAPA hari lagi Indonesia memperingati ulang tahun ke-81 kemerdekaan.
Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga momentum untuk mengingat bagaimana para pendiri bangsa membaca perubahan geopolitik global dan mengubahnya menjadi peluang bagi kepentingan nasional.
Agustus 1945 mengajarkan, perubahan tatanan dunia dapat menjadi peluang bagi bangsa yang mampu membacanya dan berani mengambil keputusan sebelum jendela kesempatan tertutup.
Delapan puluh satu tahun lalu, pada 6 dan 9 Agustus 1945, Amerika Serikat (AS) menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.
Hampir bersamaan dengan bom atom kedua, Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang.
Rangkaian peristiwa tersebut mempercepat keruntuhan posisi Jepang dan mendorong proses penyerahan kepada Sekutu.
Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito mengumumkan penerimaan Jepang terhadap ketentuan Potsdam.
Namun, bagi Indonesia, pertanyaan lebih penting bukan semata-mata apakah bom atom menyebabkan Jepang menyerah dan mengubah peta geopolitik di Asia Pasifik.
Pertanyaannya adalah: mengapa kekalahan Jepang menjadi momentum bagi lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka hanya dua hari setelah Jepang menyatakan menyerah?
Pertanyaan tersebut mengemuka karena menyerahnya Jepang tidak otomatis membuat Indonesia merdeka. Kekalahan Jepang justru menciptakan situasi politik yang penuh ketidakpastian.
Sekutu akan segera datang untuk mengambil alih kekuasaan Jepang. Belanda juga berkeinginan kembali ke Indonesia.
Sementara itu, pemerintahan pendudukan Jepang masih memegang kendali administratif dan militer.
Dalam situasi tersebut, para pejuang kemerdekaan menghadapi ruang politik yang sangat sempit. Mereka harus memilih: menunggu perkembangan atau mengambil keputusan sendiri.
Mereka memilih untuk menentukan nasib sendiri.
Para pejuang kemerdekaan membaca kekalahan Jepang bukan sekadar sebagai peristiwa militer, tetapi sebagai bagian dari perubahan besar dalam geopolitik global.
Perang Dunia II telah melemahkan kekuatan kolonial Eropa. Jepang sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Pasifik mengalami kekalahan.
AS dan Uni Soviet muncul sebagai dua kekuatan besar yang akan membentuk tatanan dunia pascaperang.
Di sisi lain, gerakan nasionalisme dan antikolonialisme di Asia dan Afrika memperoleh ruang politik yang semakin besar.
Dalam perspektif hubungan internasional, perang besar dapat mengubah distribusi kekuatan dan menghasilkan perubahan dalam tatanan internasional.
Robert Gilpin dalam War and Change in World Politics menjelaskan, perubahan distribusi kekuatan dapat mendorong perubahan terhadap tatanan internasional yang ada.
Dalam konteks tersebut, Agustus 1945 menjadi salah satu titik transisi penting.
Indonesia melihat, transisi tersebut menciptakan window of opportunity, atau jendela kesempatan.